Pada hari Minggu, 21 September 2008 kemarin Bosco Green Club (BGC) mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Vinsensius Putra yang terletak di jalan Kramat Raya. Akan tetapi kunjungan kali ini berbeda karena BCG tidak mengadakan bakti social kepada anak-anak panti tersebut, melainkan untuk bertemu dengan bruder Trimuryanto, OFM sebagai pengurus panti asuhan Vinsensius Putra, guna melihat cara pembuatan kompos.
BGC yang berjumlah 18 orang berangkat dari gereja Yohanes Bosco Sunter pk.11.30 dan tiba di Vinsensius Putra pk.12.00. Begitu tiba kami langsung disambut sendiri oleh bruder Tri dan dibawa ke ruangan aula untuk mendengarkan presentasi mengenai beberapa hal.
Yang pertama kami diperkenalkan dengan profil panti asuhan vinsensius Putra yang sudah berdiri sejak tahun 1915, dan kini telah 300 anak yang tinggal di panti asuhan tersebut. Yang kedua profil bruder Tri sendiri, yang ternyata namanya sudah terkenal di KAJ dan pernah masuk majalah HIDUP sebagai pencetus dan pemprakarsa gerakan nyata peduli lingkungan hidup, terutama kepeduliannya terhadap sampah dan pengolahannya menjadi kompos.
Kurang lebih 1 jam kami disuguhi presentasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan ada pula cuplikan berita mengenai pengelolaan sampah lintas agama dan prototype lingkungan hidup yang asri di daerah Banjarsari, Cilandak-Jakarta Selatan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan test kadar polutan dan bakteri dalam air, dimana sebelumnya kami anggota BGC diinstruksikan untuk membawa sampel air dari PAM, air tanah, air kemasan, dan sebagainya untuk diteliti. Setelah selesai dengan test kadar polutan dalam air, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama yang penuh dengan keakraban.
Selesai makan siang, kami lalu melihat-lihat tempat pembuangan sampah panti asuhan yang sistemnya dibagi menjadi 3 kelompok besar sampah yaitu : 1. Sampah Organik (untuk dikomposkan, contohnya: sampah dapur dan sampah halaman/kebun. 2. Sampah An organik (untuk didaur ulang), contohnya: kardus, plastik, botol gelas/plastik, besi, kaca, dll. 3. Sampah Berbahaya-B3 (pisahkan), contohnya: kaleng bekas cat, obat nyamuk cair, pecahan lampu, baterai, dll.
Acara terakhir dari kunjungan kami ditutup dengan melihat pembuatan kompos di halaman panti asuhan. Kompos terdiri dari 2 macam yaitu kompos padat dan kompos cair. Pertama-tama kami dijelaskan cara pembuatan kompos padat yaitu dengan mencacah samapah-sampah organic yang kemudian dipendam dalam sebauh kardus/tong yang dialasi serbuk gergaji, dan dicampurkan dengan zat cair semacam ragi kompos dan didiamkan selama 2 minggu hingga kompos berbau seperti tanah dan berwarna hitam. Metode ini disebut juga dengan metode Takakura. Sedangkan untuk pembuatan kompos cair menggunakan semacam drum yang ada penyulingan dibawahnya. Metode pembuatannya adak mirip dengan metode Takakura, namun agak berbau pada hasil akhirnya. Kompos cair ini cocok digunakan bagi mereka yang sibuk, sehingga jika ingin menggunakan kompos cair ini langsung dicampurkan dengan air dengna perbandingan 1:5.
Demikian kunjungan BGC kali ini untuk melihat secara langsung pembuatan kompos dari bahan-bahan alami. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar